Sale!

Rp 140,000.00 Rp 119,000.00

SANG PANGERAN & JANISSARY TERAKHIR

Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro

Oleh: Salim A. Fillah

Isi: 631 hal. Soft cover

Penerbit: Pro-U Media

DESKRIPSI:

SANG PANGERAN & JANISSARY TERAKHIR; Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro adalah fiksi sejarah berlatar Perang Diponegoro (1825-1830). Kisahnya menyorot dengan akrab kepribadian Sang Pangeran terutama di akhir peperangan, berpadu dengan cerita petualangan Nurkandam Pasha dan teman-teman Janissary-nya dari Istambul. Mereka membawa pesan pewarisan peradaban, bahwa bangsa di kepulauan Nusantara sangat diharapkan menjadi penghulu kebangkitan Islam.

Sang Pangeran dan Janissary Terakhir, insya Allah menjadi buku pertama dari “Tetralogi Sang Pangeran” yang akan mengupas kisah dakwah dan perjuangan dalam sejarah Nusantara, disusul dengan hikayat dari masa Sunan Kalijogo, Sultan Agung Hanyokrokusumo, dan Sultan Hamengkubuwono I agar para pewaris dakwah di negeri ini kian memahami fiqih dakwah, persatuan umat, dan langkah demi langkah perjuangan.*

*

Kyai Gentayu berjingkrak, menaikkan kaki depannya sambil meringkik riang dan sesekali melonjak. Surainya berkibar terentak selaras dengan tapak-tapaknya yang berkecipak. Dengan kepala mendongak, sang penunggang tetap dapat duduk tegak. Lelaki berperawakan tinggi lagi kacak itu tampak seperti sedang menari tandak. Gerak tubuhnya melenggak sesuai lenggok tunggangannya yang rancak. Di sekeliling kuda yang menjejak-jejak, para pengawalnya seirama berlari hingga tombak-tombak di tangan mereka turut meliuk bagai pusaran ombak.

“Lihat Paman! Lihat sedulur sekalian!”, seru Sang Pangeran yang tiba-tiba memutar kendali kudanya sambil mengacungkan tangan ke arah Puri dan Masjid yang dikerumuk api. “Kediaman kita telah terbakar! Dan tiada lagi tersisa tempat bagi kita di atas bumi ini! Maka mari kita semua mencari tempat untuk diri kita di sisi Gusti Allah!”

“Kami bersama Anda, Kangjeng Pangeran! Pejah gesang fi sabilillah!”, sambut para pengikut.

“Dan demikian pula kalian, para Janissary terakhir?” tanyanya meminta penegasan disela ringkik Gentayu yang telah hendak berpacu tapi dikekang.

“Tentu, Pangeran… Kita adalah kaum, yang apabila bumi menyempit bagi kita, maka langit yang akan meluas untuk kita! Hiyaaaa!” seru Nurkandam Pasha sambil melecut kudanya. Sang Pangeran tersenyum mantap, dan sekali dia lepaskan kekang Gentayu, dua lompatan kuda itu senilai tiga kali loncatan kawanannya.

“Hiyaaa… Hiyaaa…” Serempak yang lain turut berpacu dan turangga-turangga terbaik dari Tergalreja itu berlari ke arah terbenamnya mentari sebelum membelok ke selatan menyusur tepian Kali Bedog.

Maktuub…!” Katib Pasha yang ada di barisan belakang berbisik dengan memejam mata sambil mengusap surai tunggangannya dan menunduk khusyuk. Sejak senja yang gerah, Rabu 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, salah satu perang sabil paling berdarah di Nusantara itu telah pecah.*

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “”

Jumlah yang harus ditransfer, termasuk ongkos kirim, akan kami kirimkan lewat Whatsapp atau SMS. Dismiss